Gunakan 21 Software, Warnet Bisa Lolos Razia

MALANG - Badan Pengurus Nasional Asosiasi Warung Internet Indonesia (BPN Awari) menunjukkan sedikitnya 21 jenis software (perangkat lunak) bebas tak berbayar untuk menjamin keamanan bisnis warnet di Kota Malang. Bagi pebisnis pemula, modal 21 jenis software tersebut sudah bisa menopang jalannya bisnis warnet tanpa takut terkena sweeping petugas kepolisian.
Ketua BPN Awari M. Irwin Day kemarin mengatakan, software tersebut adalah pendukung dari jenis aplikasi yang sering digunakan para user. Mulai aplikasi perkantoran, aplikasi gambar, hingga fasilitas multimedia sudah bisa diakses dengan 21 software bebas itu.

"Kami telah petakan dan meneliti 21 software itu sebagai software opensource. Warnet bisa pakai, pribadi pun bisa instal kalau takut terkena razia software ilegal. Polisi pun tak bisa berbuat apa-apa," kata Irwin dalam Focus Group Discussion dalam rangka bedah buku panduan berbisnis warnet di Hotel Regent’s Park, kemarin.

Untuk menjalankan 21 software tersebut memang perlu belajar sedikit karena beberapa fiturnya dipandang baru dibanding software yang sudah biasa dipakai. Namun, karena dirancang untuk memudahkan, maka proses belajar tak memerlukan waktu lama. "Hasilnya tak kalah dengan software yang sedang ngetren. Hanya perlu belajar sedikit," saran dia.

Yang juga menjadi poin penting, Operating System (OS) untuk menjalankan 21 software itu mutlak OS legal. Ada dua OS yang sering digunakan. Yakni Windows dan Linux. "OS-ya harus legal. Kalau tidak, percuma yang 21 tadi," katanya.

Sementara, BPN Awari mencatat adanya kenaikan permohonan anggota Awari di Kota Malang pasca sweeping software oleh polisi pertengahan Mei 2007 lalu. Ada setidaknya lima pengelola warnet di Kota Malang yang ingin bergabung.

"Siapa-siapanya saya lupa. Yang pasti, di Kota Malang para pengelola mulai sadar pentingnya berhimpun setelah digerebek habis-habisan polisi," kata Ketua Bidang Organisasi BPN Awari M. Yamin.

Yamin berharap, langkah mereka diikuti pengelola warnet yang lain. Sebab sudah saatnya pengelola warnet sadar perkembangan pesat bisnis warnet harus mulai dibarengi dengan menjalin kekompakan antar-pengelola. Yang terjadi di Kota Malang saat munculnya penggerebekan polisi adalah cermin dari lemahnya kekompakan antar-pengelola.

Terpisah, Direktur Pemberdayaan Telematika Depkominfo RI Bambang Soeprijanto berterima kasih pada pengelola warnet yang menumpahkan unek-uneknya untuk mengoreksi buku panduan. Masukan peserta akan dijadikan bahan melengkapi buku panduan bisnis warnet. Buku itu akan ditetapkan sebagai buku panduan bisnis warnet nasional. Selain Malang, aspirasi juga dijaring dari pengelola warnet di Jakarta dan Kupang.

"Buku ini juga memuat visi nasionalisme. Dalam mengembangkan informasi melalui warnet, orang Indonesia kan bisa memilih menggunakan open source. Selain aman, tidak mahal, beberapa juga karya orang-orang Indonesia" tutur Bambang. (yos)

 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com